Senin, 10 Februari 2014

PERENCANAAN PEMBELAJARAN IPS



Nama                                     : Tri Satria
NIM                                        : 4915122548
Dosen Pengampu                 : Andri Rivelinno, S.E, M.Pd
Mata Kuliah                         :Perencanaan Pembelajaran IPS
Kelas                                      :Pendidikan IPS A 2012

Pertanyaan :

1.      Apa yang dimaksud dengan perencanaan pembelajaran ?
Saat menanyakan apa yang dimaksud perencanaan pembelajaraan ,adalah sama dengan pertanyaan apa yang akan dibawa seorang tentara perang kemedan perang saat akan melakukan peperangan. Jawabannya adalah senjata peperangan. Dalam dunia pendidikan senjata peperangan seorang guru sebelum menyampaikan materi kepada siswa didik didalam kelas adalah sebuah perencanaan pembelajaran untuk menyusun konsep dasar apa yang akan seorang guru sampaikan kepada peserta didik. Oleh sebab itu Perencanaan Pembelajaran didalam kelas adalah hal dasar yang seharusnya disiapkan oleh seorang guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran dikelas.
Beberapa ahli mengatakan mengenai Definisi Perencanaan Pembelajaran salah satunya yaitu menurut   Smith & Ragan yaitu : “Proses sistematis dalam mengertikan prinsip belajar dan pembelajaran ke dalam rancangan untuk bahan dan aktivitas pembelajaran”.  Proses tersebut secara sistematis dan berfikir dalam sebuah prinsip belajar dan pemebelajaran ke dalam rancangan untuk bahan dan aktivitas pembelajaran dikelas. Dari pendapat ahli tersebut sudah sangat jelas bahwa diperlukan sebuah rancangan yang harus dipersiapkan agar kita tidak kehabisan cara dalam melakukan penyampaian pembelajaran dikelas. Sedangkan secara etimologis dalam sebuah perencanaan pembelajaran ada dua kata yang harus kita ketahui terlebih dahulu mengenai apa itu perencanaan pembelajaran. 
Perencanaan Pembelajaran terdiri dari dua kata rencana dan pembelajaran. Kata rencana yang artinya pengambilan keputusan mengenai apa yang harus kita laksanakan kedepannya serta dari apa yang telah kita rencanakan sebelumnya untuk mencapai sebuah tujuan yang ingin dicapai. Sedangkan pembelajaran proses pelaksanaan belajar dan mengajar (PBM) untuk menyampaikan materi yang akan kita pelajari. Secara umum maka, Perencanaan pembelajaran merupakan sebuah rancangan atau persiapan yang dibuat oleh guru tentang pembelajaran yang menjadi tanggung jawabnya saat seorang guru sebelum melaksanakan kegiatan pembelajaran didalam kelas agar peserta didik mampu memahami pesan yang disampaikan oleh guru tersebut.
         Dari kedua penjelasan diatas, kita ketahui seorang guru tidak akan matang memberikan pesan berupq materi dikelas dan menyampaikan pesan berupa materi kepada peserta didik dikelas apabila seorang guru belum merencanakan pembelajaran apa yang akan ia laksanakan dikelas. Seorang guru tanpa perencanaan yang matang mengenai materi apa yang akan disampaikan sama  halnya dengan “seorang prajurit tanpa senjata dimedan di medan perang” karena itu mengingat perencanaan dalam pembelajaran adalah sebuah hal yang penting dipersiapkan maka tentu saja seorang guru harus mampu mengusai teori pembelajaran itu sendiri mengingat didalam pembelajaran tidak hanya selain merencanakan pembelajaran didalam kelas tetapi guru yang baik, adalah saat ia mampu melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan mengusasi materi bahan ajar yang akan ia sampaikan terkait materi disetiap pertemuan yang akan ia sampaikan, perencanaan pembelajarannya terkait silabus, rpp dan modul didalamnya , strategi pembelajaran yang akan dilaksanakan seorang guru tersebut didalam kelas, media pembelajaran digunakan sebagai alat penunjang guru untuk menyampaikan materi ataupun pesan didalam kelas, terlebih pada saat seorang guru terhadap peserta didiknya serta melakukan evaluasi dari hasil pembelajaran yang dilakukan seorang guru setelah melakukan perencanaan, pelaksanaan, dan melakukan pengevaluasian hasil pembelajaran yang telah disampaikan didalam kelas. Didalam dunia pendidikna perencanaan pembelajaran didalam kelas hal yang paling penting dan utama ada RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran).

2.      Apa gambaran perencanaan pembelajaran kita dalam bidang ilmu pengetahuan sosial (IPS) Dimasa yang akan datang ?

Bidang studi IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) adalah sebuah keilmuan yang terdiri dari antar displin (interdiscipliner) ilmu sosial . IPS erat kaitannya dalam dalam kehidupan sehari-hari, mencakup seluruh bidang ilmu sosial didalamnya IPS diharuskan menjadi mata pelajaran yang secara komleksitas dalam pembahasan materinya yang berupa pokok setiap runtun ilmu sosial didalamnya, karena apa IPS menjadi satu kesatuan (ter-integrasi) ilmu sosial dan menjadi kesatuan utuh ilmu interdisipliner dari kajian sosial itu sendiri. Kita saat menjadi seorang guru IPS tentu saja harus memiliki bekal yang matang dalamnya, karena apa seorang guru IPS lulusan saat kependidikan pada zaman dahulu dan seorang guru IPS lulusan saat kependidikan pada masa sekarang haruslah berbeda. Seorang guru IPS pada zaman dahulu adalah ada sebuah hal yang menjadi kekurangan dan harus kita ubah pola pikir kita menjadi selangkah lebih maju lagi. Guru IPS pada lulusan zaman dahulu sebelum masuk kelas harus belum memiliki persiapan yang matang ketika akan mengajar dikelasnya, seperti : kesiapan materi bahan ajar seorang guru IPS dan guru IPS yang memiliki kecenderungan tidak menguasai materi IPS secar terintegrasi dan keseluruhan  sehingga banyak materi atau pesan yang tidak tersampaikan oleh seorang guru IPS terhadap siswa didiknya.
Guru IPS yang ada saat ini, ditambah diperparah oleh latar belakang pendidikan seorang guru IPS yang mengajar terkadang tidak sesuai dengan bidang studi yang akan ia ajarkan didalamnya.  Artinya seorang guru IPS masa dahulu, rata-rata mereka bukan seorang guru lulusan perguruan tinggi dalam program studi pendidikan IPS. Guru IPS masa kini sedang berupaya tidak seperti itu, maka dibeberapa perguruan tinggi memiliki program studi pendidikan IPS ini merupakan antisipasi jangka panjang yang pemerintah lakukan dalam memenuhi kebutuhan tenaga kependidikan guru IPS dilingkup sekolah.
kita calon guru IPS nantinya akan mengajarkan mata pelajaran dalam bidang studi IPS Terpadu didalam kelas, tentunnya kita harus memiliki perencanaan yang lebih matang dalam menguasi kelas dan menguasai materi ajar didalam kelas. Sehingga guru IPS saat sudah turun kemasyarakat untuk mengabdikan diri kita sebagai guru mereka sudah siap dalam pengabdian tridharma perguruan tinggi mereka secara baik dan maksimal.
Kami merumuskan gambaran sebuah perencanaan yang baik dalam mengajar bidang studi IPS didalam kelas salah satunya.
1.      Seorang Guru IPS harus memiliki emapat komponen sebelum    mengajar dikelas.  komponen – komponen tersebut adalah : Adalah  hal yang dihadapi seorang guru yaitu : (1) Tujuan-tujuan yang ingin dicapai, (2) Materi pelajaran apa yang perlu diberikan untuk mencapai tujuan, (3) Metode dan alat mana yang akan digunakan dan (4) Bagaimana prosedur mengevaluasinya.

2.      Seorang guru IPS harus melakukan Pengembangan Sistem Instruksional menurut saya, seperti dalam Tujuan Pembelajaran IPS yang dijelaskan seorang guru didalamnya seperti : (1) Tujuan pembelajaran umum, (2) Tujuan pembelajaran khusus dan (3) Kombinasi pembelajaran


3.      Seorang guru IPS harus melakukan Menetapkan Kegiatan Belajar Mengajar seperti : (1) Merumuskan semua kemungkinan kegiatan yang diperlukan, (2) Menetapkan mana dari sekian kegiatan tersebut yang tidak perlu ditempuh oleh para siswa dengan menggunakan test awal dan (3) Menetapkan kegiatan belajar mengajar mana yang akan ditempuh oleh para siswa
4.      Seorang guru IPS harus melakukan Merencanakan Program Pembelajaran seperti : (1) Merumuskan materi pelajaran dan (2) Menetapkan metode pembelajaran yang akan disampaikan
5.      Seorang guru IPS harus Melaksanakan Program pembelajaran seperti : (1) Mengadakan Pretest (awal), (2) Menyampaikan materi pelajarandan (3) Mengadakan Postest
Setelah hasil penjelasan diatas Didalam perencanaan pembelajaran IPS yang dimaksud diatas sudah sangat jelas, seorang guru IPS harus melaksanakan Perencanaan Pembelajaran secara keseluruhan dengan baik dan benar  agar seorang guru IPS maka kini dapat membawa perubahan dalam kegiatan pembelajaran IPS didalam kelas dibandingkan seorang guru IPS masa dahulu. 
Sehingga seorang guru IPS mendapatkan tujuan dalam pembelajaran IPS secara baik dam maksimal ketika menyampaikan pesan berupa materi didalam kelas, maka dari itu didalam perencanaan pembelajaran IPS didalam kelas diperlukan dengan yang namanya RPP dan modul pembelajaran IPS sebagai perencanaan awal yang akann siswa capai dalam pembelajaran IPS itu didalam kelas dan perencanaan awal akan guru capai sesuai kompetensinya.

Sumber pengutipan:
Majid, Abdul. perencanan pembelajaran (mengembangkan standar kompetensi guru). Jakrta: Penerbit Cerdas Jaya, 2003.

Minggu, 09 Februari 2014

Mudahnya jadi PNS (Pengemis Negeri Sipil )



Judul Penelitian         : Mudahnya jadi PNS (Pengemis Negeri Sipil)
Di Susun oleh             :
Nama                          : Tri Satria Pradana
NIM                            : 4915122548
Jurusan/Prodi            : Pendidikan IPS A 2012

            Dalam lembaga sosial  salah satu diantarannya adalah lembaga pendidikan. Fungsi lembaga pendidikan adalah mempersiapkan seseorang dalam mecari lapangan pekerjaan. Menurut Horton dan Hunt (1984) terdapat dua fungsi dari interaksi lembaga pendidikan yaitu fungsi manifest dan fungsi laten. Perbedaanya adalah pada fungsi manifest bersifat jelas dan terang dan dapat diketahui oleh orang lain, meliputi peran dan status seseorang sedangkan fungsi laten bersifat tersembunyi dan tidak diketahui orang lain meliputi hal yang berupa sikap dan tindakan dalam jiwa seorang manusia seperti kebanggan (prestise) bahwa cita-cita-nya telah tercapai.
            Lembaga Pendidikan memiliki banyak fungsi manifest salah satunya adalah menjadi poin penting dari lembaga tersebut yaitu membantu mempersiapkan orang mencari nafkah melalui saluran pendidikan didalam ruang lingkup akademis .Tetapi, banyak orang yang mengatakan bahwa diri mereka lebih sukses dibandingkan  para akademisi diluar sana, yang memiliki banyak gelar,  ternyata teori Horton dan Hunt, pada zaman sekarang dianggap kurang baik lagi dengan situasi dan kondisi yang ada . Maka, Faktor Ekonomi tentu saja yang selalu dikaitkan dengan lembaga pendidikan bagaimana tidak, ketika seseorang mengenyam bangku pendidikan ada perasaan kepuasaan (sastification) tersendiri di masa depan. Bahkan dirinya akan selalu mengatakan bahwa apabila saya melalui lembaga pendidikan, saya tidak  mungkin akan menganggur dalam hal mencari pekerjaan, itulah kata-kata yang sering kita dengar, atau dalam bahasa sehari-harinya adalah “lulusan sarjana pasti akan dicari dimana-mana.”  Lalu bagaimana dengan keadaan sebenarnya?
Sebagai data acuan, saya ambil data menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Di Provinsi DKI Jakarta, telah mengumumkan angka kemiskinan yang dibandingkan dengan Tingkat Penganguran berdasarkan pendidikan tertinggi, berikut datanya :Pada Maret 2012 menurun dibandingkan dengan tahun lalu. Dengan menggunakan garis kemiskinan Rp 379.052,- per kapita sebulan pada bulan Maret 2012, maka jumlah penduduk miskin sekitar 363,2 ribu orang atau tingkat kemiskinan 3,69% dari total penduduk Jakarta. Angka ini terlihat menurun dari tahun sebelumnya jika dibanding Maret 2011, dengan menggunakan garis kemiskinan Rp 355.480,- per kapita sebulan, tercatat jumlah penduduk miskin 363,4 ribu orang dengan tingkat kemiskinan 3,75%. Sangat senang kita mendengarnya, namun BPS melanjutkan bahwa angka kemiskinan tersebut akibat dari jumlah tingkat pengangguran yang ada Di Indonesia. Hal yang sangat mengecewakan datang bahwa pada jenjang sarjana termasuk penyumbang angka pengaguran cukup besar, dan  selanjutnya tercatat kita bandingkan dengan data BPS mengenai Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT), menurut pendidikan  tertinggi yang ditamatkan seseorang, BPS pada tahun 2011(dalam persentase) adalah jangka waktu (bulan februari -agustus) pada jenjang SD kebawah (3,37 - 3,56), jenjang sekolah menengah pertama (7,83 – 8,37), jenjang sekolah menengah atas (12,17 – 10,66), jenjang sekolah menengah kejuruan (10,00 –  10,43), pada jenjang Diploma I/II/III (11,59 – 7,16) dan Universitas ( 9,95 – 8,02). Sudah jelas bahwa pendidkan ternyata bukan lagi faktor utama dalam dunia pekerjaan.
            Apakah, sempat terbenak dalam pikiran kita, apabila orang yang mengenyam bangku pendidikan saja dapat dikatakan sebagai penyumbang pengangguran terbuka, Lalu bagaimana dengan seorang gelandangan dan pengemis yang dipinngir jalan dan meminta belas kasihan kita dengan mengulurkan tangan, dan tidak melalui saluran pendidikan. Seorang Pengemis dengan ucapan yang mengandung iba yang membuat hati kita terpanggil biasanya menggunakan cara tersebut agar membuat simpatik.untuk memberi sumbangan untuk mereka. Tidak perlu jauh-jauh bahwa kondisi tersebut banyak sekali ditemukan di kampus kita tercinta Universitas Negeri Jakarta maka, Inilah yang menjadikan dorongan dalam penelitian saya , bahwa selain para dosen disebut PNS (Pegawai Negeri Sipil), ternyata para gelandangan seperti Pengemis saya berikan mereka sebagai julukan PNS (Pengemis Negeri Sipil), menjadi seorang PNS Dosen amatlah tidak mudah, melalui beberapa tahapan panjang dan pastinya mereka lulusan akademisi dari lembaga pendidikan terbaik, Sedangkan menjadi seorang PNS (Pengemis Negeri Sipil) amatlah mudah tidak perlu kita melewati lembaga pendidikan, dan tidak membutuhkan materi dan non material yang banyak untuk pekerjaan tersebut. Hanya pakaian kusam dan muka belas kasihan saja yang mereka siapkan. Lalu,Sebenarnya apa itu Pengemis?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Pengemis berasal dari kata “emis, mengemis /meng·e·mis/ v 1 meminta-minta sedekah: sbg orang gelandangan dia hidup dr ~; 2 ki meminta dng merendah- rendah dan dng penuh harapan tentu”. Kita semua memiliki pola pikir yang sama bahwa pengemis identik dengan kata orang miskin, namun berbeda kategori orang miskin menurut BPS di ukur dari sisi ekonomi yaitu berdasarkan tingkat  pendapatan dan tingkat pengeluaran per kapita per/ bulan seseorang yang dikategorikan orang miskin adalah sebesar Rp211.726 atau sekitar Rp7000 per-artinnya orang yang berada diatas angka tersebut dikategorikan menegah kebawah bukan kategori orang miskin.
            Oleh sebab itu, ini menarik penelitian bagi saya, saya mengambil beberapa data langsung melalui observasi, pada Jumat, (21/12/12) dengan mengambil beberapa sampel dari pengemis yang ada di sekitaran kampus, menguunakan TOR (Terms Of Refferency) atau daftar pertanyaan ke salah seorang pengemis yang aada, saya mengajukan bebarapa  pertanyaan , selanjutnya hasil yang saya dapatkan bahwa seorang pengemis berinisial A yang sudah setengah abad umurnya  (yang selama ini suka saya amati ) mengaku pekerjaan mengemis bukan koordinasi atau paksaan dari orang lain melainkan kemauannya untuk mengisi kegitannya sehari-hari terlebih membantu perekonomian suaminya, lalu ketika saya tanya mengenai jam kerja mengemis, saya dapatkan benar bahwa ia memulai aktivitas tersebut mulai hari Senin-Jumat pada pukul (08.00 - 17.00 WIB), sedangkan masalah penghasilan terkadang yang menurut dirinya lumayan cukup sekitar kurang dari Rp.35.000 sehari. Sehingga alasan inilah yang membuat dirinya betah melakukan kegiatan mengemis. inilah yang saya sebut PNS (Pengemis Negeri Sipil), mengingat mempunyai jam kerja yang hampir sama dengan PNS (Pegawai Negeri Sipil).
            Ketika penulis membandingkan dengan seorang wanita penjual makanan ringan berdiri didekat si pengemis yang sama-sama sudah tua renta dengan pengemis tersebut, saya melihat wanita tersebut masih gigih dalam mencari nafkahnya, bahkan masih kuat membawa keranjang penuh makanan ringan untuk dijualkan, inilah yang menjadikan komperatif penelitian saya, tentu menjadikan penilaian tersendiri bagi kita semua, terutama saya, masih banyak orang yang berkondisi sama namun masih enggan meminta-minta selama ia masih sehat untuk bekerja mencari nafkah , berlandaskan teori Horton dan Hunt, bahwa fungsi manifest dan laten lembaga pendidikan sedikit terpatahkan karena pola pikir setiap manusia akan berbeda-beda dalam mencari nafkah apalagi berkembang sesuai kemajuan zaman yang ada sekarang, dan itu semua menjadi sah saja ketika peraturan mulai tidak mengikat karena kelemahan pengawasan di kampus, seperti kisah dikampus tadi bahwa tata tertib kampus masih belum baik dalam hal pengawasan terutama mengenai kegiatan orang luar yang sering kali masuk mengemis boleh sesuka hati mereka keluar dan masuk kampus, namun tidak sepenuhnya pengemis pun disalahkan terlebih  orang yang memberi memang memiliki tujuan baik membagikan sedikit harta yang dimilikinya untuk disedekahkan, namun, apabila salah tujuan akan menyebabkan pemberian yang kita lakukan hanya menguntungkan pihak tertentu saja. Maka sudah seharusnya pola pikir kita yang dirubah mengingat menurut ajaran agama "Tangan di atas (memberi) lebih baik dari pada tangan di bawah (yang diberi), dan dahulukan orang yang menjadi tanggung jawabmu, Sebaik-baiknya sedekah adalah sedekah yang dikeluarkan oleh orang yang mempunyai kelebihan”. Dalam artiaan ketika kita memberi salurkan –lah bantuan kita pada orang yang tepat seperti: panti asuhan, panti jompo, dsb sehingga apa yang kita keluarkan untuk kebaikan orang lain tepat sasaran dan bermanfaat bagi orang tersebut.

Memudarnya PERMAINAN TRADISIONAL AKIBAT PERKEMBANGAN IT : games online



Memudarnya PERMAINAN TRADISIONAL AKIBAT PERKEMBANGAN it : games online
logoUNJ





Tri Satria                            (4915122548)
Di ajukan Sebagai Tugas Individu dan Kelompok
Mata Kuliah Teori Sosial Budaya
Drs. Budiaman, M.Si

PENDIDIKAN IPS A 2012
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA


KATA PENGANTAR
          Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala karunia serta limpahan rahmatnnya sehingga kami dapat menyelesaikan laporan observasi ini dengan tepat waktu dalam bentuk maupun isinnya yang sederhana.
            Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu kami masih membutuhkan kritik serta saran dari bapak Drs. Budiaman selaku dosen serta semua pihak yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini.
            Akhir kata kami sebagai penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang berperan serta dalam penyusunan makalah individu, serta referensi dari buku-buku perpustakaan dari awal hingga akhir penulisan makalah ini, semoga makalah ini dapat bermanfaat sebagai acuan, pedoman maupun petunjuk bagi pembaca. Semoga Allah swt selalu senantiasa meridhoi segala usaha dan kerja keras kita. Amin


Jakarta, 25 Desember 2013
Penulis



DAFTAR ISI
Kata Pengantar.......................................................................................................i
Daftar Isi.................................................................................................................ii
BAB I             PENDAHULUAN............................................................................1
BAB II            PEMBAHASAN..............................................................................3
BAB III           KESIMPULAN DAN SARAN......................................................11

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................12


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang Penulisan
Permainan rakyat atau olahraga tradisional sebagai aset budaya bangsa perlu dilestarikan, digali dan ditumbuh kembangkan, karena selain merupakan permainan tradisional suatu tempat atau daerah-daerah diindonesia, permainan tradisional dapat mengisi waktu luang serta sangat bermanfaat bagi pelaku olahraga itu sendiri karena dapat meningkatnkan kualitas jasmani dan kesehatan bagi pelakunya.
            Berbagai jenis olharaga tradisional banyak kita miliki yang merupakan keanekaragaman budaya bangsa dan berasal dari berbagai derah yang ada di indonesia. Hal ini memerlukan pengelolaan da pembinaaan yang serius dan terus menerus supaya disamping menjadi olahraga juga dapat dikembangkan menjadi objek pariwisata daerah tersebut dan dapat meningkatkan devisa negara dan mengangkat nama bangsa di dunia.
            Di era global saat ini, memudarnya permainan atau olahraga tradisional tidak menjadi hal yang baru lagi. Masuknya kecanggihan teknologi membawa masyarakat tradisional bangsa indonesia, menjadi lebih praktis. Kini masyrakat mengaggap permainan atau olahraga tradisional, dapat digantikan dengan game online dan fitnes center.Pergantian permainan tradisional akibal globalisasi dikarenakan kurangnya kesadaran masyarakat indonesia terhadap pentingnya melestarikan permainan lokal atau olahraga tradisional dalam kehidupan sehari-hari.
            Agar keanekaragaman ini tetap menjadi Bhineka Tunggal Ika, maka perlu adanya  kordinasi dan sinkronisasi antara pemerintah pusat dan daerah-daerah pemilik olahraga tradisinal tersebut, serta pemerintah sebagai penyelanggara Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), pemerintah pusat didalamnya juga harus bertindak memfasilitasi kegiatan lomba permainan atau olahraga tradisional dan melakukan standarisasi teknik permainan atau olahraga tradisional yang berkembang dimasyrakat, agar kedepannya permainan  tradisional dapat berkembang hingga tingkat nasional maupun internasional dalam ajang kompetisi didalamnya. Permainan tradisional diharapkan mampu bersaing tanpa harus kehilangan perannya di masyarakat  terlebih dengan masuknya arus globalisasi dan perkembangan kemajuan teknologi, permainan tradisional digantikan oleh game online atau fitness center dan berbau kemajuan teknologi seharusnya tanpa harus menghilangkan permainan tradisional pemerintah dapat menggabungkan kemajuan teknologi dengan permainan lokal, seperti membuat permainan tradisional didalam handphone atau gadget atau mengadakan kompetisi permainan tradisional se-tingkat nasional dapat kita lakukukan sehingga tidak ada yang kehilangan perannya di masyrakat melainkan nanti permainan tradisional dan perkembangan kemajuan teknologi dapat berjalan beriringan membangun semangat sportifitas dalam masyarakat.
1.2  Rumusan Masalah Penulisan
Dari pendahuluan diatas dapat kita rumuskan sebuah masalah dalam penulisan makalh ini seperti,
1)      Apa sajakah jenis permainan tradisional yang ada di indonesia ?
2)      Dari Manakah Permainan Tradisional tersebut sudah ada ?
3)      Siapa yang memainkan permainan tradisional tersebut ?
4)      Mengapa permainan tradisional tersebut semakin memudar didalam masyrakat ?
5)      Dimanakah peran pemerintah dan masyrakat dalam melastarikan permainan tradisional di era global?
1.3  Tujuan Penulisan
Dalam rumusan masalah, maka dapat kita simpulkan tujuan penulisan makalah ini untuk mengetahui seberapa tahukah kita mengenai permainan tradisional yang biasnya berbentuk olahraga dalam masyarakat, permainan tradisional dimasa dahulu dan sekarang, mengapa permaian tradisional sekarang kurang banyak diminati, karena perkembangan kemajuan teknologi saat ini sehingga kita lebih menyukai permainan modern, seperti: game online, serta bagaimanakah peran pemerintah dan masyarakat, dalam melstarikan permainan tradisional dan memudarnya permainan tradisonal di era globalisasi saat ini.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Permainan Tradisional
Permaianan Tradisional, merupakan permainan atau aktivitas yang berkaitan dengan kebugaran jasmani dalam diri seseorang dan telah memiliki tradisi yang suah berkembang selama beberapa generasi dan berupa tradisi budaya suatu bangsa, yang dibentuk oleh masyarakat didalamnya, karena beberapa faktor berupa nilai kearifan lokal budaya daerah tersebut.  Permainan itu sendiri dibagi menjadi dua yaitu: permainan untuk bermain (play) dan permaianan untuk bertanding (games). Permainan untuk bermain dilakukan guna mengisi waktu luang dan bersifat hiburan pada umumnya dilakukan oleh anak-anak. Sedangkan permainan untuk bertanding menjadi empat jenis yaitu :
1.      Permainan yang memerlukan kekuatan / keterampilan fisik (contoh: Enggrang, Dayung, Panah, dan pencak silat)
2.      Permainan yang memerlukan suatu siasat (contoh: dakon, dam-daman)
3.      Permaianan yang memerlukan kekuatan fisik dan siasat (contoh: sepak takraw. Gobak sodor, dan kasti)
4.      Permainan yang bersifat untung-untungan (contoh: karapan sapi)
Ini merupakan sebagian kecil dari permainana tradisional yang beragam dan berbeda antara satu daerah dengan yang lainnya.
Nilai terkandung dalam permainan tradisional
Dalam setiap kegiatan pasti memiliki, kandungan nilai-nilai didalamnya, termasuk dalam permainan tradisional, adalah sebuah bentuk penghargaan  pada usaha keras untuk mencapai prestasi yang unggul, penghargaan, pada prestasi orang lain serta nilai-nilai religiunitas.
Permainan edukatif adalah suatu kegiatan yang sangat menyenangkan, dapat mendidik dan bermanfaat untuk meningkatkan permainan kemampuan berbahasa, berpikir, serta bergaul anak dengan lingkungan. Permainan edukatif juga dapat berarti sebuah bentuk kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh kesenangan atau kepuasaan dari cara atau alat pendidikan yang digunakan dalam kegiatan bermain, yang disadari atau tidak memiliki muatan pendidikan yang dapat bermanfaat dalam mengembangkan diri secara seutuhnya. Ringkasnya, permainan edukatif merupakan sebuah bentuk kegiatan mendidik yang dilakukan dengan menggunakan cara atau alat permainan yang bersifat mendidik.
2.2 Permainan Tradisional yang edukatif
Dapat dikatakan bahwa permainan tradisional yang dimiliki masyarakat indonesia secara kearifan lokal masing-masing daerah di indonesia yang beraneka-ragam permainan tradisional didalamnya, setiap permainan tentunya memiliki niali edukasi didalmnya. Kita sadari atau tidak nilai edukasi yang tersimpan didalamnya, adalah nilai yang timbul dalam masyrakat itu sendiri. Nilai edukasi itu sendiri terbentuk , karena masyarakat indonesia cenderung menjunjung tinggi nilai kebersamaan dan memupuk semangat kerjasama membentuk karakter masyarakat indonesia yang ramah dan terkenal tinggoi akan kemauan dan kerja kerasnya untuk menggapai harapan dan cita-cita bangsa indonesia, melalui permainan/olahraga tradisionalnya.
 Dari penelitian yang dilakukan para ilmuan, diperoleh bahwa bermain mempunyai manfaat yang besar bagi perkembangan anak dalam hidupnya. Tujuan Permaian Edukatif sebenaanya untuk mengembangkan konsep diri (self concept), untuk mengembangkan kreativitas, untuk mengembangkan kopmunikasi, untuk mengembangkan aspek fisik dan motorik, mengemabngkan aspek sosial, mengembangkan aspek emosi atau kepribadian, mengembangkan aspek kognitif, mengasah ketajaman pengindraan, mengembangkan keterampilan olahraga dan menari.
Manfaat permainan edukatif
Permainan edukatif itu dapat berfungsi sebagai berikut:
1.      Memberikan ilmu pengetahuan kepada anak melalui proses pembelajaran sambil belajar
2.      Merangsang pengembangan daya pikir, daya cipta, dan bahasa, agar dapat menumbuhkan sikap, mental serta akhlak yang baik.
3.      Menciptakan lingkungan bermain yang menarik, memberikan rasa aman dan menyenagnkan.
4.      Meningkatkan kualitas pembelajran anak-anak

2.3 Peran Penting Permainan Tradisional
Didalam masyarakat peran penting dalam permainan tradisional, perlu kita kembangkan demi ketahanan budaya bangsa, karena kita menyadari bahwa kebudayaan merupakan nilai-nilai luhur bagi bangsa indonesia, untuk diketahui dan dihayati tata cara kehidupannya sejak dahulu. Bangsa indonesia merupakan bangsa yang besar dalam keaneka ragaman kebudayaan didalamnya, termasuk permainan tradisional didalamnya, keanekaragaman permainan tradisional adalah karena banyaknya daerah di indonesia memiliki kearifan lokal kebudayaan masing-masing, sehingga membentuk masyarakatn melakukan aktivitas kebugaran jasmani yang berbeda satu daerah dengan yang lainnya.
            Permainan tradisonal memang sudah seharusnya mendapatkan perhatian khusus dan mendapatkan prioritas yang utama untuk dilindungi, dibina, dikembangkan, diberdayakan dan selanjutnya diwariskan. Hal seperti itu diperlukan agar permaina tradisional dapat memiliki ketahanan dalam menghadapi unsur budaya lain di luar kebudayaannya.
2.4 Macam-Macam Permainan Tradisioanal
Dari beberapa daerah yang ada di Indonesia, Indonesia memiliki beraneka ragam permainan tradisional yang sangat edukatif. Macam-macam permaian edukatif
1.      Egrang
2.      Gebug Bantal
3.      Terompah Panjang
4.      Lari Balok
5.      Tarik Tambang
6.      Hadang
7.      Patok Lele
8.      Benteng
9.      Dagongan
10.  Sumpitan
11.  Gangsing
Salah satu permainan tradisional yang edukatif (mengandung makna dan memberikan nilai kemanfaatan yang terkandung didalamnya untuk edukasi (pendidikan) yang memiliki nilai mendidik anak bangsa ) akan kita bahas dalam penulisan ini.
Permainan BENTENG dan TARIK TAMBANG adalah satu permainan tradisional yang sering kita lakukan bagi kalangan remajad dan usia anak-anak tetapi sesuai perkembangan kemajuan zaman dan teknologi permainan tradisional ini sedikit memudar dari masyarakat indonesia sendiri.
Pada Permainan Benteng, memiliki tujuan memupuk kebugaran jasmani, dan meningkatkan semangat kerjasama antar pemain didalamnya, dan membentuk rasa kebersamaan yang kuat anata pemain yang satu dengan pemain lainnya. Permainan ini dimainkan oleh remaja dan anak-anak dalam permainan ini apabila pemain melanggar permainan maka mendapatkan sanksi atau hukuman , hukuman dan sanksi yang diberikan kepada pemain apabila: (1) menyentuh pemain lawan dengan tangan, (2) mendorong lawan dengan sengaja atau menggaet kaki lawan, dan menyerang wasit atau membuat keributan. Makna dari diberikannya sanksi dalam permainan ini adalah, agar pemain menerapkan sikap spotifitas atau menjungnjung tinggi nilai kejujuran didalamnya agar nilai kebersamaan permainan itu sendiri tidak diciderai oleh perilaku kecurangan antar pemain didalamnya. Sedangkan,
Pada Permainan Tarik Tambang yang merupakan permainan rakyat yang sampai sekarang masih banyak dimainkan oleh masyarakat selain permainan panjat pinang, adalah permainan harus beregu putra maupun putri, menggunakan seutas tali tambang yang memiliki panjang 40-60 meter. Tujuan permainan ini memupuk semangat kerjasama dan bersosialisasi antar pemain didalamnya, ini mengajak kita untuk saling berinteraksi antar pemain didalamnya, selain memberikan kemanfaatan kualitas kebugaran jasmani, meningkatkan semangat kerja sama didalamnya. Sekarang permainan tersebut hanya dapat kita jumpai pada hariphari besar seperti hari kemerdekaan NKRI saja.

2.5 Permainan Tradisional Dalam Perkembangan IT
            Perkembangan kemajuan teknologi ,informasi dan komunikasi saat ini, membuat perubahan sosial dalam masyrakat seurudh dunia. Masyarakat Indonesia termasuk yang mendapatkan dampak seperti ini juga, Memudarnya permainan Tradisional di era globalisasi termasuk perubahan sosial yang terjadi akibat dari kurangnya kesadaran masayarakat lokal melestarikan dan memberdayakan permainan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Ini terjadi contohnya, pada semakin berkembangnya games online lebih diminati dan disukai anak-anak zaman sekarang ketimbang permainan tradisional atau anak-anak yang zaman dahulu sering kita mainkan.
Menurut William F. Ogburn Seorang sosiologi Amerika, merupakan ilmuan pertama yang melakukan penelitian terinci menyangkut proses perubahan sosial. William F. Ogburn juga menyatakan bahwa perubahan sosial mencakup unsur-unsur kebudayaan baik material maupun non material. Ogburn berpendapat bahwa budaya material berubah lebih cepat dibandingkan dengan budaya non material yang dapat menyebabkan terjadinya cultural lag. Sedangkan Globalisasi adalah suatu proses di mana antar individu, antar kelompok, dan antar negara saling berinteraksi, bergantung, terkait, dan memengaruhi satu sama lain yang melintasi batas Negara . Dalam perkembangan kemajuan teknologi, informasi dan komunikasi keterkaitan antara perubahan sosial dan globalisasi adalah terhadap perubahan dalam budaya masyakarat lokal yang cenderung dinamis terhadap kemajuan zaman, dan menerima masuknya kemajuan teknologi dengan mudah dalam masyarakat.
Dalam suatu Masyarakat yang menerima perubahan sosial cenderung akan memiliki dampak yang ditimbulkan bagi masyarakat yang menerima perubahan sosial itu sendiri. Terlebih dalam Perkembangan Teknologi Informasi sudah yang sedemikian pesatnya sangat sulit bagi kita untuk mengontrolnya. Hampir setiap detik produk Teknologi Informasi tercipta di seluruh belahan dunia. Kita patut mengapresiasi perkembangan Teknologi Informasi ini karena tentunya akan semakin membantu kehidupan manusia. Dampak positif dan negatif pemanfaatan IT sudah pasti ada dan sudah sewajarnya kita mewaspadai hal ini.
Berikut ini beberapa hal yang menjadi dampak positif perkembangan Teknologi Informasi.
1.              Mempermudah dan mempercepat akses informasi yang kita butuhkan.
2.              Mempermudah dan mempercepat penyampaian atau penyebaran informasi.
3.              Mempermudah transaksi perusahaan atau perseorangan untuk kepentingan bisnis.
4.              Mempermudah penyelesaian tugas-tugas atau pekerjaan.
5.              Mempermudah proses komunikasi tidak terhalang waktu dan tempat.
Sementara itu dampak negatif perkembangan Teknologi Informasi antara lain,
1.              Isu SARA, kekerasan dan pornografi menjadi hal yang biasa.
2.              Kemudahan transaksi memicu munculnya bisnis-bisnis terlarang seperti narkoba dan produk black market atau ilegal.
3.              Para penipu dan penjahat bermunculan terutama dalam kasus transaksi online.
4.              Munculnya budaya plagiarisme atau penjiplakan hasil karya orang lain.
2.6 Analisis Memudarnya Permainan Tradisional
Dari uraian penjelasan diatas dapat kita tarik kesimpulan bahwa keberagaman permainan tradisional yang dimiliki masyarakat indonesia, merupakan aset kebudayaan bangsa kita yang seharusnya kita jaga dan lestarikan agar tidak hilang ditelan kemajuan zaman dengan pesatnya kemajuan dunia IT di era global. Permainan Tradisional sudah seharusnya mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah sebagai penyelenggara negara, dan masyrakat sebagai pembentuk kebudayaan itu sendiri, perlu adanya pemberdayaan permainan tradisional yang pernah ada di indonesia, caranya dengan mengajak tokoh masyarakat yang mengenal permainan tersebut untuk terus memberika pengetahuan dan memainkan permainan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
            Tujuan permainan tradisional yang memiliki nilai kebersamaan dan memupuk semangat nasionalisme bangsa merupakan nilai yang seharusnya tidak boleh dihilangkan dalam masyarakat indonesia. Perubahan sosial yang mencakup unsur-unsur kebudayaan baik material maupun non material akan berpendapat budaya material berubah lebih cepat dibandingkan dengan budaya non material , permainan tradisional salah satu didalamnya yang ikut terkena dampak perubahan sosial oleh arus globalisasi.
                        Perkembangan IT sudah sepatutnya kita apreasiasi akan tetapi perkembangan IT jangan sampai menghilangkan kebudayaan lokal masyarakat itu sendiri, terlebih dalam dunia olahraga seperti permainan tradisional, berkembang pesatnya games online dalam segi pemainan modern bagi remaja dan anak-anak tentu memiliki beberapa dampak yang dirasakan ,diantaranya: menurut Margaretha Soleman, M.Si, Psi menuliskan dampak buruk secara sosial, psikis, dan fisik dari kecanduan bermain game online dan cara-cara penyembuhannya.Berikut dampak games online Secara Sosial:
1.         Hubungan dengan teman, keluarga jadi renggang karena waktu bersama mereka menjadi jauh berkurang.
2.         Pergaulan kita hanya di game on line saja, sehingga membuat para pecandu game online jadi terisolir dari teman-teman dan lingkungan pergaulan nyata.
3.         Ketrampilan sosial berkurang, sehingga semakin merasa sulit berhubungan dengan orang lain.
4.         Perilaku jadi kasar dan agresif karena terpengaruh oleh apa yang kita lihat dan mainkan di game online.
Lebih banyak lagi dampak yang ditimbulkan terhadap perkembangan IT bagi anak-anak dan remaja adalah akibat tidak dapat dibendungnya kemajuan IT didunia tidak seimbang dengan kesiapan masyrakat menerimanya, sehingga terkadang nilai-nilai lokal masyrakat memudar atau ditinggalkan karena dianggap kurang menarik lagi, dan hanya mengahbiskan waktu saja. Pada permainan tradisional yang cenderung menggunakan waktu dan fisik memang terlihat membosankan, karena apabila ada yg lebih praktis atau mudah sebagai hiburan, bahasa kasarnya mengapa kita harus mempersulit dengan adanya kemajuan IT .
Pemikiran seperti itu seharusnya jangan sampai terfikirkan, oleh kita. Sejatinya permainan tradisional membentuk semangat kerjasama dan sikap saling komunikasi antar pemain didalamnya sehingga dapat melatih kita berinteraksi sosial, apabila nilai dasar seperti ini dihilangkan maka kita akan menjadi masyrakat yang tidak mampu memelihara kearifan lokal masyrakatnya sendiri, terutama menjaga nilai-nilai edukasi kelestarian permainan tradisional itu sendiri .
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan
Dalam menerima sikap perubahan sosial didalam masyrakat kita memang harus bersifat terbuka dan dinamis terhadapa perkembangan zaman, perkembangan dunia IT. Ada sebuah garis-garis yang harus memisahkan kebudayaan asli dengan masuknya kebudayaan luar dalam era global saat ini. Perubahan sosial akan terjadi apabila masyarakat menerima masuknya perubahan itu sendiri, maka dari itu kita perlu yang namanya kesadaran sejak dini untuk menjaga dan melstarikan kebudayaan lokal masyarakat kita sendiri, kalau bukan kita yang menjaga kebudayaan tersebut, siapa lagi dan tidak akan menutup kemungkinan memudarnya permainan tradisional, sebagai salah satu contoh penulisan diatas, dapat terjadi bila kita sendiri tidak memelihara kebudayaan kita sendiri.

3.2 Saran
Penulis memerima saran berupa kritikan atau masukan ,agar pembuatan penulisan selanjutnya dapat lebih baik lagi dan mampu memberikan kebermanfaatan bagi pembacanya.










DAFTAR PUSTAKA
Amin, Muh. “Peranan Kreativitas dalam Pendidikan. “Jakarta: Majalah Analisis Depdikbud  Pusat: 1980.
Astrid S. Susanto Sunarjo (1993). Globalisasi dan komunikasi. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan
Depdiknas. Olahraga Tradisional. Jakarta:2002.
Dharmamulya, Sukirman. Pelestarian Permainan Anak-Anak Tradisional perlu diupayakan. Yogyakarta: YIPKP Lembaga Javanologi: 1996
Dinata. Marta,dkk. Permainan kecil dan Permainan Tradisional. Bandar Lampung: Penerbit Cerdas Jaya, 2003.
Ismail. Andang. Education Games. Yogyakarta: Perpustakaan Naional RI:2009.
Pelly dan Menanti, Teori Sosial Budaya. Jakarta: Dikti, 1994.
Soekanto, Soerjono. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali: 1982
Stompka, Sosiologi Perubahan Sosial. Jakarta: Prenada Media: 2004.
Sumitro. Permainan Kecil. Jakarta: 1992